Pengajian Bulanan

Kata Mutiara Sumaryono Yunus

Maestro Motivator

Maestro Motivator

Jumat, 22 Januari 2016

SEBAB BAYI LAHIR MENANGIS



SEBAB BAYI LAHIR MENANGIS.
Anda semua tahu kalau setiap bayi yang baru lahir tentu menangis. Apakah anda tahu sebab apa bayi menangis ketika dilahirkan. Inilah alasannya :

Ada sebuah hadits, dari Abu Hurairah ra yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Tidak ada seorang bayi pun dari anak Adam yang terlahir kecuali ia pasti mendapat tusukan dari setan sehingga bayi itu menangis dan menjerit karenanya, kecuali Maryam dan putranya (Nabi Isa as).”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda : ”Jeritan bayi ketika lahir adalah karena mendapat tusukan setan.” 
(HR. Muslim).
Dari hadits di atas dijelaskan bahwa semua manusia, entah itu orang tuanya muslim atau tidak, ketika bayi lahir maka akan didatangi setan dan diganggu pada saat dilahirkan. Datangnya setan pada saat itu adalah untuk menancapkan tusukan ujung jarinya pada kedua mata anak Adam.

Setan Mencari Pengikut
Tujuan setan menusukkan jarinya tersebut adalah setan berharap kelak di kemudian hari, anak Adam tersebut menjadi pengikut setianya. Matanya tidak bisa “MELIHAT” dengan benar antara yang baik dan yang jahat.

Kebaikan akan tampak menjadi bayang-bayang yang samar sehingga ia akan enggan menuju ke arah kebaikan tersebut. Kejahatan akan tampak seperti kilauan cahaya yang snagat meggiurkan sehingga ia akan berlari untuk menyongsongnya.

Oleh karena itu, Rasululah SAW memberi tuntunan kepada umatnya agar terhindar dari gangguan setan pada saat bayi dilahirkan yaitu :
* Dengan diazankan pada telinga kanannya dan diiqamatkan pada telinga kirinya.
Ibnu Abbas ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ajarkanlah kalimat ‘Laa ilaaha Illallahu’ kepada anak-anakmu sebagai kalimat pertama yang mereka dengar.” 

(HR. Al-hakim).

Rasulullah SAW juga bersabda : “Barang siapa yang mendapati seorang bayi yang dilahirkan, kemudian diazankan di telinga kanannya dan diiqamatkan di telinga kirinya, maka ia tidak akan diganggu oleh Ummu Shibyan (setan yang selalu mengganggu anak kecil).” (HR. Ibn Sunny dari Hasan ibn Aki ra).

Menurut Rasululah SAW, setan akan ketakutan dan berlari sejauh-jauhnya apabila mendengar suara azan.
*Hal kedua yang bisa dilakukan pada bayi yang baru lahir adalah dengan dibacakan surat Al Ikhlas pada kedua telinganya.

Imam Muhyiddin ABi Zakaria Yahya dalam kitabnya Al Adzkar Al Nawawiyyah menjelaskan bahwa Rasullah SAW membacakan surat Al khlas pada telinga anak yang baru dilahirkan.

*Dengan mendoakan bayi yang baru dilahirkan.
Untuk meghindari bisikan setan pada bayi adalah dengan membacakan Surat Ali Imran ayat 36 dengan maksud untuk memohonkan perlindungan Allah SWT untuk anak yang baru dilahirkan agar terhindar dari godaan setan yang terkutuk.

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya : Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”
Doa keselamatan dan perlindungan untuk anak.
“Ya Allah, kumohon perlindungan kepada-Mu untuk anak ini dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan dan kesusahan, dan dari pandangan mata yang menyakitkan.” (HR. Bukhari).


Semoga tulisan ini bermanfaat untuk akhi dan ukhti semuanya.


LAFADZ ADZAN


Allahu Akbar Allahu Akbar. (2X)

Asyhadu alla illahaillallah. (2X)

Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. (2X)

Haiyaalas solah (2X)

Haiyaalal falah. (2X)

Allahu Akbar Allahu Akbar.

La ilahaillallah.

Artinya :

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Aku menyaksikan bahawa Tiada Tuhan melainkan Allah.

Aku menyaksikan bahawa Muhammad itu pesuruh Allah.

Marilah Sembahyang.

Marilah kepada kejayaan.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Tiada Tuhan melainkan Allah.



LAFADZ IQAMAH :



Allahu Akbar Allahu Akbar. Asyhadu alla illahaillallah. Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Haiyaalas solah Haiyaalal falah. Qadqamatis solah Qadqamatis solah. Allahu Akbar Allahu Akbar. La ilahaillallah.



artinya:



Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Aku menyaksikan bahawa Tiada Tuhan melainkan Allah.

Aku menyaksikan bahawa Muhammad itu pesuruh Allah.

Marilah Sembahyang.

Marilah kepada kejayaan.

Sesungguhnya sudah hampir mengerjakan sembahyang.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Tiada Tuhan melainkan Allah.



DO’A SELEPAS AZAN DAN IQAMAH.

Allahumma rabba hazihid da’ watittamah. Wassolatil qaimah. Ati saiyidana Muham- madanil wasilata wal fadhilah. Wassyarafa waddarajatal ‘aliatar rafi’ah. Wab’athhul maqamal mahmudal lazi wa’adtah. Innaka laatukhliful mi’ad. Rabbighfirli waliwalidaiya (3X). Warhamhuma kama rabbayani saghira. Wasollallahu ‘ala saiyidini Muhammadiw wa’alihi wasahbihi wassallam.

Artinya:

Ya Allah, Wahai Tuhan yang telah mensyariatkan seruan adzan dan sembahyang yang akan didirikan. Kurniakanlah kedudukan yang tinggi dan terpuji yang engkau telah janjikan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kehormatan, sesungguhnya Engkau tidak memungkiri janji. Ya Allah ampunilah aku serta ibubapaku dan kurniakanlah rahmat kepada keduanya sebagaimana kedua mereka memelirara akan daku. Dan selamat sejahtera atas junjungan kami Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabat baginda.



Musuh Besar Manusia

Ada empat musuh besar manusia dalam kehidupan ini. Keempatnya harus terindetifikasi dan diwaspa-dai, agar manusia selamat dunia akhirat. Apa saja?

Yahya bin Mu’adz al-Razi berujar, musuh manusia ada tiga, yaitu; setan,hawa nafsu dan dunia.

Pertama, musuh manusia adalah setan. Allah mengingatkan manusia agar waspada terhadap siasat setan. Makhluk terkutuk ini mengajukan penangguhan mati kepada Allah sampai kiamat, dengan tujuan culas, yaitu untuk menyesatkan seluruh manusia, kecuali orang-orang mukhlis (QS. Shad: 78-83). Oleh karena itu, Allah melarang manusia berteman dengan setan. Sebaliknya, setan harus dijadikan musuh, karena sebenarnya ia menggoda manusia hanya untuk mencari teman sebanyak-banyaknya di neraka (QS. Al-Baqarah: 168, 268, Yasin: 60 dan Fathir: 6).
SETAN
Sedangkan Syaitan itu menurut Al-Quran Al-Kariem adalah makhluq yang kerjanya mengajak kepada perbuatan jahat dan keji serta berbohong.
1. Mengajak Kepada Perbuatan Keji
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.(QS. Al-Baqarah : 169 )
2. Syetan Adalah Musuh Manusia
Dan Allah SWT telah menegaskan bahwa syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah : 208 )
3. Memberi Janji Dan Angan-angan Kosong
Syaitan itu kerjanya memberi janji dan angan-angan kosong kepada manusia
Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS.An-Nisa : 120 )

Di antara sifat setan adalah kemampuannya untuk mengalir dalam darah manusia, tidak tidur, tidak mati, tak patah arang dalam menggoda manusia. Berbagai riwayat menjelaskan, setan duduk di tengkuk manusia ketika tidur, membuat ragu, ikut makan dan minum dengan manusia, serta ikut ‘nimbrung’ saat manusia melakukan jima’ atau hubungan badan. Oleh karena itu, kita diperintahkan berdoa sebelum melakukan aktifitas-aktifitas tersebut.

Kedua, hawa nafsu. Allah melarang manusia mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan seseorang dari jalan Allah (QS. Shad: 26). Ibnul Jauzi dalam Dzam al-Hawa mengutip ucapan Abu Ali ar-Raudzabari, “Hawa nafsu selalu mengajak pada perilaku buruk, sedang manusia diperintahkan untuk berlaku baik. Hawa nafsu secara tabiat berjalan di wilayah penyimpangan, sedang seorang hamba berusaha keras menolaknya. Maka bila seseorang menuruti nafsunya, ia adalah sekutu nafsu dalam kerusakannya.”
Kerjaan nafsu yang mengajak orang pada kejelekan ini sama dengan misi setan. Keduanya seakan bekerjasama agar manusia memandang indah perbuatan-perbuatan buruknya 
(lihat Al-An’am: 43, an-Naml: 24, dan al-‘Ankabut: 38). 
Setan dan hawa nafsu membuat urusan ibadah seakan-akan berat dan tak enak dilakukan, sedang urusan maksiat seakan-akan mudah dan nyaman dikerjakan. Qiyamul lail jam 23.00 seakan berat dilaksanakan, namun tidak demikian rasanya bila menonton sepak bola di waktu yang sama. Mengikuti pengajian satu jam terasa lama dan membosankan, namun untuk melihat sinetron terasa singkat dan mengasyikkan. Uang bernominal 50 ribu terasa sedikit saat dibawa ke pusat perbelanjaan, namun terasa amat besar untuk dimasukkan ke kotak amal. Bila seseorang merasa nyaman saat menggunjing, dan merasa tak minat untuk berdzikir, nau’udzu billah, itu artinya ia telah dikalahkan oleh setan dan hawa nafsunya.
Hal ini kebalikan dari standar orang beriman, seperti dijelaskan Rasul dalam riwayat Abu Umamah, “Jika kebaikanmu membuat kamu senang, dan kejelekanmu membuat kamu sedih, maka kamu adalah orang beriman.” 
(al-Mustadrak, no. 2217)
Dalam Islam, nafsu tidak dikebiri, namun untuk dikendalikan. Nafsu makan tidak untuk dimatikan, namun dikendalikan, dengan cara berpuasa dan tidak makan berlebih-lebihan (israf). Nafsu syahwat tidak untuk dikebiri, namun dikendalikan, dengan cara menikah. Oleh karena itu, dalam riwayat Anas bin Malik dikisahkan, Nabi Muhammad tak merasa salut pada tiga orang yang berjanji untuk shalat malam selamanya, berpuasa tiap hari sepanjang tahun, dan tidak akan menikahi wanita. Kepada ketiganya, Rasul bersabda, “Kalian yang mengatakan demikian-demikian? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa dari kalian, namun aku berpuasa dan kadang tidak, aku shalat dan tidur, dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.” 
(HR. Bukhari)
Intinya, orang harus mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya, bukan menuruti hawa nafsunya, meski kelihatannya berbentuk ibadah. “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa,” sabda Nabi dalam hadits shahih riwayat Amr bin Ash.

Musuh manusia yang ketiga adalah dunia. Allah SWT menyifati seluruh dunia sebagai kesenangan sesaat 
(QS An-Nisa:77). 
Sesuatu yang sebentar, jika dinikmati adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan 
(QS Al-Hadid: 20).
Ibnu Iyad berujar, “Seandainya dunia adalah emas yang akan sirna, dan akhirat hanyalah tembikar, tetapi akan kekal, maka kita wajib memilih yang kekal daripada yang fana.” Selanjutnya dia berujar, “Semua kebajikan disimpan dalam sebuah rumah dan kuncinya adalah zuhud di dunia, sedangkan seluruh kejelekan diletakkan di rumah lain dan kuncinya adalah cinta dunia.”
Rata-rata kejahatan yang dilakukan orang, bila ditelisik, muaranya adalah karena cinta pada dunia. Seorang pedagang yang menipu, curang dalam timbangan, penyebabnya karena ia ingin mendapat keuntungan duniawi bertumpuk. Seorang pejabat melakukan korupsi, bila dicari penyebabnya, pasti karena ia rakus untuk memburu harta dunia. Begitu pula antar saudara yang memperebutkan harta peninggalan orang tua, sampai tidak saling menyapa, tak mau mengindahkan hukum waris, bila dicari penyebabnya, pasti karena cinta pada dunia.
Lalu, bagaimana menyikapi dunia? Allah memerintahkan dunia untuk menjadi pembantu bagi orang yang berorientasi kepada Allah semata. Sebaliknya, dunia adalah tuan bagi orang yang hanya berorientasi dunia. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, “Wahai dunia, siapa saja yang menolong-Ku bantulah dia, dan siapa yang melayanimu, jadikanlah dia sebagai pembantumu!”
Dunia tak diciptakan sebagai tujuan, tapi sebagai perantara untuk sampai pada ridha Allah. Maka dia ibarat pelayan, dan pelayan akan bersifat rendah, tak mungkin dinilai secara agung dan mulia.

Keempat, sebagian manusia dapat menjadi musuh bagi yang lain. Dalam Alqur’an dijelaskan, “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku.” (TQS. Al-Furqon: 28-29)
Dalam tafsir dijelaskan, yang dimaksud dengan si Fulan dalam ayat tersebut adalah setan atau manusia yang telah menyesatkan manusia lainnya di dunia. Dalam ayat lain, Allah menitahkan agar manusia tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan sampai saling tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran 
(QS. Al-Maidah: 2).
Maka seseorang yang membantu orang lain dalam berbuat dosa, sejatinya adalah musuh bagi orang lain itu.
Orang yang dalam berhubungan, atau berteman dengan yang lain diisi dengan perbuatan dosa, maka di akhirat, pertemanan itu akan berubah menjadi permusuhan. Satu dengan yang lainnya akan saling menyalahkan dan berbantah-bantahan di hadapan Allah 
(lihat Ash-Shaffat: 24-33).
Sedang hampir tiap bulan, kita mendengar minimal satu berita orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan pesta minuman keras. Tidak hanya satu orang, namun dua, tiga, empat, atau lebih. Di dunia mereka dapat dikatakan berkawan, nongkrong bersama, ke sana kemari, bahkan meninggal dunia bersama. Namun pertemanan yang diisi dengan kemaksiatan seperti ini hanya berlaku di dunia, sedang di akhirat, akan berubah menjadi permusuhan di hadapan Allah.
Jika Allah menjadikan beberapa hal sebagai musuh manusia, maka tentu Allah menyediakan senjata bagi hamba-Nya untuk menumpas musuh-musuh itu. Dalil agama banyak menjelaskan tentang senjata ini. Ada yang berupa bacaan, amaliah, dan ibadah secara umum. Dalam bentuk bacaan misalnya ta’awwudz, basmalah terutama saat mau makan, la ilaha illallah, doa akan berhubungan suami istri, ayat-ayat Alqur’an, khususnya al-mu’awwidzatain 
(al-Falaq dan an-Nas), ayat kursi, Yasin, al-Baqarah, dan al-Shaffat.
Sedang yang berbentuk perbuatan antara lain adzan, wudhu, sujud (terutama sujud tilawah), serta menjauhi tempat-tempat jelek/maksiat, dan sebaliknya, gemar mendatangi majelis-majelis kebaikan, mengaji, berzikir, mencari ilmu yang bermanfaat. Selain itu, ibadah secara umum seperti shalat dan puasa juga menjadi senjata ampuh manusia untuk menumbangkan musuh-musuh utamanya itu.





Sifat Yang Menjadi Sarangnya Setan dan Iblis


Tempat Setan dan Iblis – Syetan masuk ke dalam diri seseorang untuk merusak dan menyesatkan itu melalui beberapa hal  yaitu


1. Kebodohan karena malas belajar,

Kebodohan itu mematikan hati dan membutakan penglihatan sehingga orang bodoh itu tidak mengerti mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang halal dan mana yang harom, mana yang hak mana yang batal, begitu seterusnya.

Karena keadaan yang demikian maka syetan memanfaatkan kebodohan ini untuk merusak dan menyesatkan manusia. Untuk itu Allah melarang menjadi orang yang bodoh. Allah berfirman didalam surat Al An’am ayat 35 Yang Artinya : ” Dan jika Allah menghendaki, niscaya Allah mengumpulkan mereka di atas petunjukNya, maka jangan sekali-kali kamu menjadi orang yang bodoh.

Nabi Musa AS. Perna berdo’a

Yang artinya : ” Berkata Musa : aku berlindung kepada Allah bahwa aku termasuk orang yang bodoh “


2. Marah.
Marah itu termasuk tempat masuknya syetan yang besar dan perangkapnya. 
Syetan mempermainkan kemarahan seseorang dalam rangka menyesatkan pelakunya itu seperti anak kecil mempermainkan bola seenaknya, begitu mudahnya orang yang marah itu dipalingkan dari kebenaran sehingga mulut yang biasa sopan bisa mengeluarkan kata-kata yang jorok, kasar, bisa mencacimaki, mengumpat, mencela, mencemoh, dll. Anggota badannya bisa tak terkendali, sehingga memukul, menyerang, merobek-robek, melukai, membunuh dll yang jelek. Hati orang yang marah dipenuhi rasa dengki, iri hati, menyimpan dendam terhadap orang yang dimarahi.
” Bersabda Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam : sesungguhnya aku mengerti satu kalimat yang kalu dia mengucapkannya niscaya hilang marah yang ia temui, yaitu : AUDZU BILLAAHI MINNAS SYAITOONIRROJIIM.  

3. Cinta dunia
Sesungguhnya syetan telah mengiasi dunia dengan gebyarnya dalam hati kebanyakan manusia sehingga mereka condong pada dunia dan merasa senang dengan dunia, mereka berlomba-lomba mencari dunia dengan sungguh-sungguh, dunia dujadikan tujuannya, mereka saling membenci dan saling dengki karena dunia. Maka iblispun memanfaatkan sedemikian rupa sehingga manusia menjadi sesat.
Bersabda Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam
Yang artinya : ” Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam Bersabda : demi Allah bukan fakir yang aku kuatirkan, tetapi aku kuatir terhadap dunia yang dibentangkan kepada kalian seperti telah dibentangkan kepada manusia sebelum kalian, maka kalian berlomba mendapatkannya seperti mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya, lantas dunia merusak kalian seperti halnya telah merusak mereka “
 
4. Panjang angan-angan
Seorang hamba jika panjang angan-angannya, dia akan melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan cenderung tidak pemperdulikan waktu, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang dia angan-angan oleh hatinya, meramalkan dunia dengan berbagai macam  usaha dan akan merobohkannya sendi-sendi kepentingan akhiratnya.
Bersabda Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam
Yang artinya : ” Dari Abi Huroirah berkata : aku mendengar Rosulullah bersabda : tidak henti-hentinya hati orang tua itu tetap muda dalam dua hal yaitu dalam cinta terhadap dunia dan panjang angan-angan”
Jika kita mengerti tinggal berapa sisa umur kita dan sudah berapa umur yang kita lewati nicaya kita akan hidup lebih berhati-hati dalam menggapai apa yang kita angan-angan-kan, dan niscaya kita lebih senang untuk menanam amal kita dan lebih senang memperpendek apa yang diingikannya.
Kita akan merasa keberadaan kita di dunia seperti orang asing atau seperti orang yang sedang menyeberang jalan. Bersabda Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam :
Yang artinya : ” jadilah kamu di dunia seolah-olah kamu itu orang asing atau yang menyebe-rang jalan.”

Untuk itu Ibnu Umar berkata :
Yang artinya : ” jika engkau ada pada sore hari jangan kamu menuggu datangnya waktu pagi, atau jika engkau ada pada pagi hari, jangan kamu menunggu datangnya sore hari, ambillah sehatmu untuk sakitmu dan hidupmu untuk matimu.”
Bersabda Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam :
Yang artinya : ” gunakan lima sebelum lima : gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu dan hi-dupmu sebelum matimu.”

Ingat janganlah angan-anganmu sebagai tempat masuknya syetan untuk mempermain-kanmu dengan adanya angan-angan yang muluk-muluk padahal kosong belaka, sehingga waktumu hanya habis kesibukan-kesibukan-kesibukan duniamu saja dan mengorbankan akhiratmu. 




“Mereka hanya mengetahui yang lahir/material (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”  
(QS Ar-Ruum ayat 7).



“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashshash 77)
Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" 
(Surah Al-An'Am ayat 32).
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Surah Al-Ankabut ayat 64)
Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu." (Surah Muhammad ayat 36).
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS Ali Imran 133).
“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” 
(QS Al-Muthaffifiin 24-28)

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan hanya menginginkan kehidupan duniawi. Itulah batas pengetahuan mereka.” (QS An-Najm ayat 29-30)
Pantaslah bilamana Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mengajarkan kita doa agar dunia tidak menjadi batas pengetahuan seorang mukmin dan muttaqin.
اللهملَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia menjadi perhatian utama kami serta batas pengetahuan kami.” (HR Tirmizi – Hasan).

Di antara do’a ringkas, namun penuh makna adalah do’a sapu jagad:

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Allahumma (Robbana) aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.”
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,

كَانَ أكثرُ دعاءِ النبيّ – صلى الله عليه وسلم – : (( اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .
“Doa yang lebih sering diucapkan Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam adalah Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka).” (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690)








Selasa, 17 November 2015

Maestro Penciptaan Manusia



PENCIPTAAN MANUSIA.
1.    Proses Kejadian Manusia Pertama (Nabi Adam).
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah : 7)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk“. (QS. Al Hijr: 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr : 28-29)
Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)
2.    Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa).
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah sati firman-Nya :
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin: 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak...” (An Nisaa 1)
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
“Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim)
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.
3.     Proses Kejadian Manusia Ketiga Nabi Isa Putra Maryam.
Narasi Qur’an tentang Isa dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Zakariya, serta kelahiran Yahya. Kemudian Al Qur’an menceritakan kejaiban kelahiran Isa sebagai anak Maryam tanpa ayah atas kenedak Allah, bukan dengan perzinahan dengan seorang laki-laki, karena Maryam sendiri tidak pernah disentuh laki-laki.
Ingatlah ketikan Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan Kalimat yang datang daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seoarang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah” (Ali Imran 45)
Muslim percaya pada konsep kesucian Maryam, yang telah diceritakan dalam beberapa ayat dalam Al Qur’an. Menurut kisah di Al-Qur’an, Maryam selalu beribadah dan telah dikunjungi oleh Malaikat Jibril. Jibril mengatakan kepada Maryam tentang akan diberikan calon anak yang bernama Isa, Maryam sangat terkejut, karena ia telah bersumpah untuk menjaga kesuciannya kepada Allah dan tetap mempertahankan hal itu dan bagaimana pula dia bisa hamil tanpa seorang lelaki atau suami, lalu Jibril menenangkan Maryam dan mengatakan bahwa perkara ini adalah perkara yang mudah bagi Allah, yang ingin membuat dia sebagai tanda untuk manusia dan rahmat dari-Nya. Seperti halnya dalam konsep penciptaan Adam tanpa ibu dan bapak.
Pembicaraan mereka terekam dalam salah satu surah didalam Al-Qur’an: “Jibril berkata: “Demikianlah Tuhan-mu berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar dapt Kami menjadiknnya suatu tanda bagi manusia dan sebgai Rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang telah diputuskan” (Maryam 21)
Beberapa ayat lain terkait dengan kelahiran Isa antara lain: “Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepaadanya: “Jadilah”, maka jadilah dia” (Ali Imran 59).
Juga Allah berfiramn: “Dan ingtalah kisah Maryam yang telah memelihara kehormatnnya, lalu Kami tiupkan ruh dari Kami ke dalam tubuhnya, dan Kami jadikan dia dan anknya tanda Kekuasaan Allah yang besar bagi semesta alam” (Al Anbiya 21)
Setelah Isa berada didalam rahimnya, Maryam lalu mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Disana ia melahirkan dan beristirahat di dekat sebuah batang pohon kurma. Isa kemudian berbicara memerintahkan ibunya dari buaian, untuk mengguncangkan pohon untuk mengambil buah-buah yang berjatuhan, dan juga untuk menghilangkan rasa takut Maryam dari lingkungan sekelilingnya Maryam berzinah, kemudian Maryam menunjuk kepada anaknya yang baru lahir itu, maka Isa pun menjawab ;
Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi; dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka” . (Maryam: 30-32).

4.  Proses Kejadian Manusia Keempat (semua keturunan Adam dan Hawa)
Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun : 12-14).
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
Perkembangan janin manusia tahap demi tahap “Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim)
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
Para ahli dari Barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau mengatakan : “Saya takjub pada keakuratan ilmiyah pernyataan Al Qur’an yang diturunkan pada abad ke-7 M itu”.
Setelah 9 bulan dalam kandungan lahirlah bayi dengan izin Allah

Selain itu beliau juga mengatakan, “Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan).

Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh sebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya.”

Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embriyo berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :

“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar: 6).
Sejarah Proses Penciptaan Manusia Dalam Al-Qur’an
Sejarah proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an menjadi salah satu hal yang diakui oleh agama lain sebagai pengetahuan yang benar alias fakta. Berdasarkan sejarah di dalam Kitab Suci milik Islam, Malaikat adalah kehidupan yang dijadikan terlebih dahulu sebelum manusia ada. Malaikat sendiri merupakan makhluk yang paling patuh dan tidak pernah melanggar sumpahnya di hadapan Allah SWT. Namun, ketika Allah menciptakan manusia yang akan menjadi khalifah atau pemimpin di bumi, malaikat melakukan protes kepada Allah. Mereka bersuara dan mempertanyakan keputusan Sang Maha Esa tersebut.
Malaikat mengerti bahwa manusia nantinya bisa membuat kerusakan di bumi, dan membuat bumi menjadi hancur. Sementara Allah sendiri berniat membuat manusia sebagai khalifah di bumi. Allah menjawab pertanyaan dan juga protes dari malaikat dengan mengatakan bahwa Allah memiliki maksud tersendiri untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Meski manusia bisa membuat bumi hancur dan rusak, namun manusia pula yang bisa membuat bumi kembali baik, bagus dan indah jika manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Allah SWT.
Tujuan Penciptaan manusia.
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminun:115).
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah/beribadah-kepada-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
Catatan :
Dengan menyembah/beribadah kepada Allah SWT, manusia menjadi hebat, kuat dan bahagia sejati hidup di dunia dan hidup di akhirat.
Untuk menjadi Khalifah
Dari segi bahasa, khalifah bermaksud pengganti. Ia menjelaskan bahawa Allah mengamanahkan manusia sebagai ‘pengganti’ untuk mentadbir bumi dengan merujuk kepada manual dan panduan daripadaNya. Mengingat kejadian yang diabadikan dalam Al-Qur’an, ketika Allah Swt berdialog dengan malaikat soal rencana menciptakan khalifah di bumi.

Artinya:“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah: 30]
Dan Allah menjadikan kita (manusia) di muka bumi, yang dibedakan derajat satu dengan yang lain, untuk menguji manusia.
Artinya:“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi, dan Dia mengangkat derajat sebagian kamu diatas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman, dan sungguh, Dia Maha pengampun, Maha penyayang .” [Al-An-‘Am: 165]
Amanah ini sangat besar dan berat. Perkara ini merupakan suatu tanggungjawab sosial atau fardhu kifayah yang perlu dilaksanakan bagi menjamin kehidupan yang harmoni, aman dan adil. Ia meliputi segala aspek kehidupan seperti cabang seperti memberi peluang pendidikan, memastikan bidang pertanian dan penghasilan bahan makan yang halal lagi baik, menyediakan kemudahan kesehatan serta tempat kediaman yang baik. “Setiap dari kamu merupakan pemimpin dan setiap dari kamu akan ditanya mengenai apa yang kamu pimpin.” (hadis riwayat Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829).
Untuk menjadi da’i
Artinya:     “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.” [Ali Imran: 110]

Hikmah Dari Mengetahui Tujuan Penciptaan Manusia
Agar kita dapat melaksanakan tugas sesuai dengan tujuan penciptaan kita (manusia), karena Allah selalu memberi perhatian dan pengawasan terhadap seluruh ciptaan-Nya, terlebih kepada manusia dan jin.[5]

Artinya:“Kami akan memberi perhatian sepenuhnya kepadamu wahai golongan manusia dan jin!.” [Ar-Rahman: 31]
Agar kita selalu ingat bahwa kita diciptakan bukan tanpa maksud dan tujuan, dan Allah akan meminta pertanggung jawaban terhadap kita atas apa yang kita lakukan.
Artinya:“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban).” [Al-Qiyamah: 36].

Q.S. IBROHIM : 24 – 25.
24.  Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
25.  Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Diantara janji Allah kpd para hamba, Dia memberikan kabar gembira dengan masuk surga jika mereka beriman dan bertakwa kepada-Nya serta selalu mengikuti dan mentaati syariat Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.
1. Allah ta’ala berfirman:
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan
berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan
dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah
diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 25)

2. Allah ta’ala berfirman:
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan
perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar.”.  (QS. At-Taubah : 72)

3. Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam surga dan
kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka; dan Rabb mereka memelihara mereka dari azab neraka. Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”.
Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.”.  (QS. Ath-Thuur : 17-20)
4. Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” (QS. Al-Kahfi : 107-108)

5. Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al-Kahfi : 30-31)

6. Allah ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke surga
berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya. “Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja kami kehendaki”. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.”
(QS. Az-Zumar : 73-74)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
«
كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ : « مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى »
“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan (tidak mau masuk surga, pent).”. (HR. Al-Bukhari no.6851, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG TERKANDUNG DI DALAM AYAT-AYAT DAN HADITS DI ATAS:
PELAJARAN PERTAMA:
Orang-orang yang dijanjikan Allah masuk Surga dan bebas dari siksa api Neraka adalah siapa saja yang mempunyai sifat-sifat berikut:
1) Beriman kepada Allah dengan baik dan benar.
2) Selalu giat dalam beramal sholih atau bertakwa kepada Allah kapan dan dimana pun ia berada.
3) Selalu bersikap taat dan tunduk serta mengikuti syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di dalam Al-Quran Al-Karim dan Al-Hadits yg shohih.
PELAJARAN KEDUA:
Amal Sholih atau perbuatan baik adalah bagian dari makna dan hakekat iman. Bahkan amal sholih adalah konsekuensi dan tanda kejujuran iman seorang hamba. Maka dari itu, dalam banyak ayat, Allah ta’ala selalu menyebutkan amal sholih berdampingan dengan iman.
PELAJARAN KETIGA:
Makna iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah: Pembenaran dengan hati, ucapan dengan lisan, dan perbuatan dengan anggota badan. Iman dapat bertambah dan menguat dengan melaksanakan ketaatan kpd Allah dan akan berkurang dan melemah dengan berbuat maksiat kpd Allah, dan mengikuti seruan-seruan setan.
Dengan demikian, seorang muslim yg berbuat maksiat atau dosa besar selain kesyirikan, kekufuran dan kemunafikan yg besar, maka tidak boleh keluarkan dari agama Islam atau divonis sebagai orang kafir dan musyrik atau murtad. Akan tetapi menurut aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa orang muslim yg berbuat dosa besar hanya dihukumi di dunia ini sebagai orang muslim yg fasiq, atau orang mukmin yg lemah dan tidak sempurnah imannya. Sedangkan di akhirat ia berada di bawah kehendak Allah, atau terserah kpd Allah.
Jika Allah berkehendak mengampuni dosa-dosanya, maka ia bebas dari siksa api Neraka dan berhak masuk surga secara langsung. Namun jika Allah tidak mengampuninya, maka ia disiksa di dlm api Neraka sesuai dengan kadar dosa-dosanya, lalu stlh itu ia dikeluarkan dari api Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga-Nya yg penuh dengan kenikmatan yg hakiki dan abadi.
PELAJARAN KEEMPAT:
Jalan yang dapat mengantarkan seorang hamba ke dalam Surga Allah hanyalah satu jalan, yaitu jalan yg ditempuh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan diikuti oleh para sahabat beliau radhiyallahu anhum ajma’in. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
« مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ »
“Barangsiapa mentaatiku, ia pasti masuk Surga.”

Dan juga berdasarkan firman Allah ta’ala yg artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah (surga-surga) yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100).
PELAJARAN KELIMA:
Barangsiapa yg mengaku CINTA RASUL dan ingin masuk Surga, akan tetapi pada kenyataannya ia selalu menyelisihi dan menentang ajaran beliau dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, akhlak dan adab, maka pengakuan cintanya kpd Rasul itu bohong, dan ia dipastikan jatuh dalam kesesatan dan masuk ke dalam api Neraka. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya:
“Barangsiapa menentang Ar-Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalannya kaum mukminin, maka Kami biarkan dia leluasa bergelimang dalam kesesatan (berpaling dari kebenaran), dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115).